Jumat, 18 September 2015
RSK 01
SEKRIPSI 1
Judul Skripsi : Analisis Hubungan Terpaan Iklan Esia Versi 299Ribu Dengan Keputusan Pembelian (Studi Eksplanatory Tentang Efek Iklan Di Kalangan Mahasiswa FISIP UI.
Nama Peneliti : Baskoro Adhi Pratomo
Tahun Penelitian : 2008
Latar Belakang
Belanja iklan produk setiap tahunnya bergerak naik sebesar 20%. Produk-produk seperti telekomunikasi, kosmetik, dan lain-lain menjadi pembelanja terbesar di tahun 2008 dengan kenaikan 20-30 persen. Terhitung pada tahun 2007, belanja klan mencapai angka sekitar Rp 25,829 triliun. Sektor yang paling berkembang pesat di Indonesia ialah pada sektor telekomunikasi. Pelaku dalam sektor bukan hanya dalam negeri, tetapi juga luar negeri.
Dalam bisnis telekomunikasi, terdapat istilah vendor dan provider, vendor seperti Nokia atau Motorola sedangkan provider ialah penyedia jasa telekomunikasi seperti Telkomsel atau Indosat. Provider kemudian dibagi menjadi dua, yaitu layanan GSM dan CDMA. CDMA dianggap mempunyai banyak kelebihan dari GSM. Indonesia adalah negara awal di Asia Pasifik yang menerapkan CDMA.
Perkembangan CDMA di Indonesia mulai terasa ketika Telkom memperkenalkan layanan telepon tetap nirkabel Telkom Flexi pada Desember 2002 dan secara komersil diluncurkan Mei 2003. September 2003, jejak Flexi diikuti oleh Ratelindo yang bersalin rupa menjadi PT Bakrie Telecom dengan produknya Esia yang merupakan warisan dari Ratelindo.
Esia sebagai salah satu merek layanan operator yang dikeluarkan oleh PT Bakrie Telecom Tbk menargetkan peralihan jumlah pelanggan hingga sebesar 3,6 juta pelanggan. Penetrasi telepo bergerak memang mengalami pertumbuhan yang pesat. Namun, tetap saja menyisakan peluang pengembangan lebih lanjut. PT Bakrie Telecom menggandeng beberapa vendor seperti Huawei dan LG dan kemudian membuat sebuah paket Esia Hemat dengan memberikan paket handphone dan kartu mulai dari harga Rp. 199.900 dan Rp. 299.900 dan terakhir Rp. 249.900, untuk handphone berwarna. Paket ini dipromosikan secara gencar melalui iklan televisi dan media cetak, pada iklan televisi. Tidak hanya itu, setiap iklan Esia baik vendor ataupun providernya selalu mengetengahkan mengenai murahnya tarif Esia dibandingkan dengan operator lainnya, seperti paket Rp. 1 per karakter untuk SMS kemana saja.
Untuk meraih ambisinya menggapai 7 juta pelanggan pada akhir tahun 2008, esia menempati urutan kedua dalam belanja iklan produk telekomunikasi dibawah XL dengan belanja iklan sebesar Rp. 131 Miliar. Dalam iklan televisi Esia versi 299Ribu diceritakan bahwa Ringgo sedang membetulkan antena rumahnya dan dia meminta bantuan temannya untuk memegangkan handphone-nya, lalu temannya tersebut bertanya kepada Ringgo mengenai harga handphone tersebut. Pada akhirnya temannya terkejut sampai terjatuh mendengar harga handphone Ringgo yang hanya 299Ribu Rupiah walaupun handphone tersebuut telah memiliki layar berwarna.
Sedangkan pada iklan Esia versi billboard dan cetak, digambarkan seekor zebra yang setengah badannya tampil di handphone, dalam tampilan handphone tersebut digambarkan bahwa bagian badan zebra yang ada di dalam handphone menjadi berwarna-warni. Dalam iklan tersebut ditampilkan harga 299Ribu, dan headline Hape Esia ngagetin lagi.
Permasalahan Penelitian
Esia menginginkan meraih 7 juta pelanggan pada akhr tahun 2008. Penayangan iklan secara besar-besaran masih menjadi andalan bagi Esia dalam mempromosikan produknya. Sebelum konsumen sampai kepada keputusan pembelian, penting juga untuk melihat sikap konsumen terhadap iklan Esia itu sendiri, karena keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh sikap konsumen terhadap iklan Esia. Untuk itu, harus diketahui seberapa besar hubungan antara terpaan iklan Esia dengan keputusan pembelian produk Esia, dan seberapa besar pengaruh sikap pada produk Esia terhadap hubungan antara terpaan iklan Esia dengan keputusan pembelian produk Esia.
Tujuan Penelitian
• Mengetahui seberapa besar hubungan terpaan pada iklan Esia terhadap keputusan pembelian produk Esia.
• Mengetahui seberapa besar pengaruh sikap khalayak pada produk Esia terhadap hubungan terpaan iklan Esia dengan keputusan pembelian produk Esia.
Kerangka Teori
• Berdasarkan teori Advertising Exposure (Batra, Myers, and Aaker, 1996) apabila konsumen terkena terpaan iklan maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudian akan menggerakkan konsumen untuk membeli produk. Terpaan iklan sebagai variabel independen dapat diukur melalui 3 dimensi, yaitu dimensi frekuensi, durasi, dan intensitas. Dimensi frekuensi ialah seberapa sering terpaan iklan tersebut ditempatkan dalam media placement (Wells, Burnett, and Moriarty, 1996) sedangkan intensitas ialah kemungkinan suatu iklan mendapatkan perhatian (Hawkins and Coney, 1986).
• Attitude Components and Manifestations. Attitude adalah kecenderungan untuk merespon secara terus-menerus, sikap suka atau tidak suka dengan penghargaan terhadap suatu objek (Wells, Burnet, and Moriarty, 1988). Jadi, Attitude adalah cara kita berpikir, merasa, dan bersikap pada suatu aspek dalam lingkungan kita.
• Making Decision Process. Dalam pembuatan keputusan berdasarkan kepada pemecahan masalah konsumen, kita berfokus kepada tujuan dari konsumen tersebut dalam membeli barang untuk pemenuhan kebutuhan mereka. Konsumen merasa memiliki masalah karena keinginan mereka yang tidak mereka capai (Peter and Olson, 1996).
• Definisi iklan menurut AMA (American Marketing Associaton) adalah: Any paid form of non personal presentation and promotion of ideas, goods or services by an identified sponsor (Kasali, 1995).
Metodologi Penelitian
• Paradigma dalam penelitian ini adalah positivis, karena peneliti ingin memperoleh konfirmasi tentang hubungan sebab akibat dari suatu terpaan iklan terhadap keputusan pembelian dengan cara yang objektif, yaitu dengan menggunakan teori-teori sosial dan mengkuantifikasikan data-data yang didapat melalui kuesioner yang dibagikan kepada responden, sehingga akan didapat hasil penelitian yang objektif.
• Pendekatan ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan ciri-ciri digunakannya sudut pandang teknokratik, menerapkan logika yang telah terbangun, dan mengikuti sebuah alur penelitian yang linear (Neumann, 2003).
• Jenis penelitian ini adalah eksplanatif.
• Subjek penelitian, berdasarkan populasi ialah Mahasiswa S1 Reguler FISIP UI jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia dari angkatan 2004-2008. Data mengenai mahasiswa didapat dari SIAK NG, sehingga diketahui mahasiswa yang aktif ataupun sudah tidak aktif. Sampel dalam penelitian ini adalah Mahasiswa FISIP UI jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2004-2008 yang masih aktif kuliah sebanyak 100 orang yang pernah melihat iklan Esia. Sedangkan teknik penarikan sampel, peneliti menggunakan teknik probability sampling. Dalam teknik ini digunakan sistem systematic sampling.
Hasil Penelitian
Berdasarkan serangkaian tes dan uji penelitian, ditemukan hasil berupa terdapat hubungan antara terpaan iklan dengan keputusan pembelian, selain itu juga adanya pengaruh variabel sikap terhadap terpaan iklan dengan keputusan pembelian sebagai variabel intervening dengan arah hubungan yang positif.
• Hasil dari pengujian variabel terpaan dalam dimensi frekuensi telah menunjukkan bahwa hampir semua responden melihat iklan Esia dalam berbagai media hanya sebanyak satu hari dalam seminggu. Dalam dimensi durasi, rata-rata penerimaan responden terhadap sebuah iklan ialah pada 1-15 detik. Untuk media televisi angka tersebut cukup besar karena iklan Esia di televisi hanya berdurasi 15 detik. Sedangkan pada dimensi intensitas, responden sangat memperhatikan elemen harga dan produk Esia.
• Hasil analisis deskriptif keputusan pembelian pada dimensi problem recognition menunjukkan bahwa responden menilai sinyal kuat merupakan faktor yang sangat penting dalam pemilihan handphone, tetapi karena kualitas Esia masih kurang memuaskan, maka faktor-faktor seperti distribus pulsa yang bagus serta tampilan handphone dapat menjadi pertimbangan Esia dalam membuat sebuah iklan.
• Dalam dimensi liking pada media televisi ialah responden sangat menyukai harga produk dan tampilan produk dalam iklan, ini menandakan bahwa kedua elemen tersebut yang menjadi daya tarik dalam iklan Esia. Dalam dimensi preference, ketertarikan responden terhadap setting iklan cukup tinggi.
• Melalui uji pearson correlation, yang menguji hubungan antara terpaan iklan dengan keputusan pembelian, maka peneliti mendapatkan hubungan yang nyata walaupun lemah diantara kedua variabel. Dengan arah hubungan yang positif, menandakan bahwa apabila skor terpaan iklan semakin tinggi, maka akan semakin tinggi juga skor keputusan pembelian.
• Hasil uji multivariate yang menggunakan partial correlation antara variabel terpaan iklan dengan keputusan pembelian mengalami penurunan setelah adanya variabel sikap. Masuknya variabel sikap terbukti melemahkan kedua hubungan variabel tersebut yang memiliki arti bahwa variabel sikap adalah variabel anteseden atau intervening.
Kesimpulan
• Dalam terpaan iklan, penempatan iklan sangat penting untuk dipertimbangkan dalam sebuah iklan, ini karena frekuensi yang diterima responden rendah yaitu rata-rata hanya satu hari dalam seminggu. Rendahnya frekuensi yang diterima responden ternyata tidak berpengaruh terhadap intensitas iklan. Elemen yang paling sering diperhatikan oleh responden ialah harga dan produk Esia.
• Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan responden dalam membeli handphone selain harga yang murah adalah distribusi pulsa dan tampilan handphone. Selain iklan, ternyata responden juga mendapatkan informasi mengenai suatu produk dari teman.
• Dalam variabel sikap, dapat disimpulkan bahwa terdapat elemen-elemen iklan yang perlu untuk dimaksimalkan penggunanya agar sikap responden terhadap iklan menjadi positif. Pada media televisi, elemen yang perlu dimaksimalkan ialah model, percakapan, dan voice over. Sedangkan pada media lain adalah setting iklan.
• Terpaan iklan memiliki hubungan yang berkekuatan rendah dan dengan arah yang positif terhadap keputusan pembelian. Maksudnya ialah arah hubungan antara terpaan iklan berbanding lurus dengan keputusan pembelian. Dengan demikian pernyataan ini menjawab hipotesis pertama yaitu terpaan iklan memiliki hubungan terhadap keputusan pembelian.
• Sikap terhadap iklan Esia ternyata melemahkan hubungan antara terpaan iklan dengan keputusan pembelian, sehingga sikap terhadap iklan Esia ini dikatakan sebagai variabel inverting.
KOMENTAR :
Menurut saya dengan skirpsi yang berjudul Analisis Hubungan Terpaan Iklan Esia Versi 299Ribu Dengan Keputusan Pembelian (Studi Eksplanatory Tentang Efek Iklan Di Kalangan Mahasiswa FISIP UI ini membuktikan bahwa ingin membuat sebuah perubahan yang begitu taktub dan signifikan, karena produk esia ini berani bersaing ketat dipasar compact secara global. Namun yang perlu digaris bawahi adalah masalah perkembangan jaman yang semakin bertambahnya tahun semakin berkembang terutama pada system teknologi sangat pesat, jadi minat manusia untuk berkembang diteknolgi tidak mau ketinggalan jaman. Oleh karena itu kurangnya minat pembeli untuk menggunakn produk esia dikemudian hari walaupun dengan nilai harga yang begitu murah.
SARAN :
Menurut saya sekripsi ini sangat bagus dan mengesankan bagi pembacanya dan sipembuat skripsi ini sangat menguasai penuh dengan meteri – materi tentang skripsi ini sehingga membuat motivasi bagi pembaca untuk melakukan tindakan dan perbaikan apabila akan melakukan terobosan baru. Namun perlu diperbaiki sedikit dengan masalah perikanan dan pemasaran pelu ditingkatkan lagi sehingga banyaknya konsumen yang terkesan dengan produk tersebut.
Kamis, 17 September 2015
TTKI - Artikel 01
Karya Tulis Ilmiah
PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP EKSISTENSI KEBUDAYAAN DAERAH MENGENAI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Penulis : Fery Kurniawan
Nim : 41614110024
BAB I
PENDAHULUAN
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan.
Globalisasi lahir sekitar dua puluh tahun yang lalu dan mulai popular sebagai ideology baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir, globalisasi mudah dikenal masyarakat diseluruh dunia, globalisasi sebagai proses berkembang pesat dengn kemajuan ilmu teknologi dan pengetahuan, globalisasi juga ikut andil dalam berbagai proses, peristiwa, keputusan, dan kegiatan dibelahan dunia yang satu dapat berpengaruh besar terhadap masyarakat di belahan dunia lain. Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya.
B. Rumusan Masalah
Adanya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi kebudayaan daerah, salah satuna adalah terjadinya penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan yang merupakan jati diri suatu bangsa, erosi nilai-nilai budaya, terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya berkembang menjadi budaya massa.
C. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan karya ilmiah ini yaitu
1. Mengetahui pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah
2. Meningkatkan kesadaran remaja untuk menjunjung tinggi kebudayaan bangsa sendiri karena kebudayaan merupakan jati diri bangsa
D. Metode Penelitian
Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah ini adalah metode studi kepustakaan baik dari buku ataupun referensi lain yang mendukung.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Globalisasi dan Budaya
a. Pengertian Globalisasi
Seorang ahli sosiologi Selo Soedirman mendefinisikan bahwa globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama.
Globalisasi merupakan kecemderungan masyarakat untuk menyatu dengan dunia, terutama di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan media komunikasi massa. Selain itu, para cendekiawan barat mengatakan bahwa globalisasi merupakan suatu proses kehidupan yang serba luas, tidak terbatas, dan merangkum segala aspek kehidupan. Globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan yang dampaknya berkelanjutan melampaui batas-batas kebangsaan dan kenegaraan. Pertemuan antarbudaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua arah yang berimbang, tetapi dapat juga sebagai proses dominasi budaya yang satu terhadap lainnya.
B. Globalisasi dan Budaya
Gaung Globalisasi, yang mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu aspek adalah kebudayaan. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, dimana hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita.
Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi boomerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dikuasai oleh Negara-negara maju, bukan Negara berkembang seperti Indonesia. Komunikasi dan transportasi Internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh.
BAB III
PEMBAHASAN
Perubahan budaya Dalam Globalisasi Kesenian Yang Bertahan dan yang Tersisihkan
Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh.
Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna gobalisasi itu sudah demikian terasa. Setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di TV yang bermuara dari Negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, melalui stasiun televise ditanah air. Sementara itu, kesenian-kesenian popular lain yang tersaji melalui kaset, VCD, dan DVD yang berasal dari mancanegara pun makin marak kehadirannya ditengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa Negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di Negara ke tiga. Peristiwa transtruktural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya.
Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Bangsa
Arus globalisai saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan transportasi, telekomunikasi, dan teknologi mengakibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri. Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
1. Pengaruh Globalisasi terhadap Jati diri di Kalangan Generasi Muda
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari anak muda sekarang. Cara berpakaian banyak remaja-remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya barat. Padahal cara berpakaian tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka di cat beraneka warna. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak tau sopan santun dan tidak peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuai hati mereka. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya generasi muda bangsa? Moral generasi muda semakin rusak. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Marilah kita mengembalikan jati diri bangsa, terima globalisasi dengan rasa kritis dan banyak melakukan hal positif.
2. Dampak Positif Globalisasi Terhadap Masyarakat
a. Dari aspek globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara demokratis
b. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional dan meningkatkan devisa suatu Negara
c. Dari aspek globalisasi sosial budaya, kita dapat meniru pola berpikir yang baik dan disiplin, serta kita juga dapat bertukar ilmu pengetahuan tentang budaya suatu bangsa
3. Tindakan yang mendorong timbulnya globalisasi kebudayaan dan cara mengantisipasi adanya globalisasi kebudayaan
Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya yang berjudul Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural. Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional. Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita lihat, misalnya kesenian asli daerah Betawi yaitu, tari cokek, tari lenong, dan sebagainya sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan tujuan kebijakan-kebijakan politik pemerintah.Aparat pemerintah di sini turut mengatur secara normatif, sehingga kesenian Betawi tersebut tidak lagi terlihat keasliannya dan cenderung dapat membosankan.
Globalisasi mempunyai dampak yang besar terhadap budaya. Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda dari yang dimiliki dan dikenal selama ini. Kontak budaya ini memberikan masukan yang penting bagi perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai dan persepsi dikalangan masyarakat yang terlibat dalam proses ini. Kesenian bangsa Indonesia yang memiliki kekuatan etnis dari berbagai macam daerah juga tidak dapat lepas dari pengaruh kontak budaya ini.Sehingga untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan diperlukan pengembangan-pengembangan yang bersifat global namun tetap bercirikan kekuatan lokal atau etnis.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia.Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia.Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah.Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan, atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing. Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya daerah sebagai identitas bangsa.
B. Saran-saran
Dari hasil pembahasan diatas, dapat dilakukan beberapa tindakan untuk mencegah terjadinya pergeseran kebudayaan yaitu :
1. Pemerintah perlu mengkaji ulang perturan-peraturan yang dapat menyebabkan pergeseran budaya bangsa
2. Masyarakat perlu berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah masing-masing khususnya dan budaya bangsa pada umumnya
3. Para pelaku usaha media massa perlu mengadakan seleksi terhadap berbagai berita, hiburan dan informasi yang diberikan agar tidak menimbulkan pergeseran budaya
4. Masyarakat perlu menyeleksi kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk tidak merugikan dan berdampak negative. 5. Masyarakat harus berati-hati dalam meniru atau menerima kebudayaan baru, sehingga pengaruh globalisasi di negara kita tidak terlalu berpengaruh pada kebudayaan yang merupakan jati diri bangsa kita.
C. Daftar Pustaka
Kuntowijoyo, Budaya Elite dan Budaya Massa dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997.
Sapardi Djoko Damono, Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997.
Fuad Hassan. “Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya Nusantara Indonesia”. Dalam http://kongres.budpar.go.id/news/article/Pokok_pokok_bahasan.htm, didownload 23/09/13.
Koenjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Adeney, Bernard T. 1995. Etika Sosial Lintas Budaya. Yogyakarta: Kanisius.
TTKI - Artikel 01
Karya Tulis Ilmiah
PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP EKSISTENSI KEBUDAYAAN DAERAH MENGENAI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Penulis : Fery Kurniawan
Nim : 41614110024
BAB I
PENDAHULUAN
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan.
Globalisasi lahir sekitar dua puluh tahun yang lalu dan mulai popular sebagai ideology baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir, globalisasi mudah dikenal masyarakat diseluruh dunia, globalisasi sebagai proses berkembang pesat dengn kemajuan ilmu teknologi dan pengetahuan, globalisasi juga ikut andil dalam berbagai proses, peristiwa, keputusan, dan kegiatan dibelahan dunia yang satu dapat berpengaruh besar terhadap masyarakat di belahan dunia lain. Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya.
B. Rumusan Masalah
Adanya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi kebudayaan daerah, salah satuna adalah terjadinya penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan yang merupakan jati diri suatu bangsa, erosi nilai-nilai budaya, terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya berkembang menjadi budaya massa.
C. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan karya ilmiah ini yaitu
1. Mengetahui pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah
2. Meningkatkan kesadaran remaja untuk menjunjung tinggi kebudayaan bangsa sendiri karena kebudayaan merupakan jati diri bangsa
D. Metode Penelitian
Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah ini adalah metode studi kepustakaan baik dari buku ataupun referensi lain yang mendukung.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Globalisasi dan Budaya
a. Pengertian Globalisasi
Seorang ahli sosiologi Selo Soedirman mendefinisikan bahwa globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama.
Globalisasi merupakan kecemderungan masyarakat untuk menyatu dengan dunia, terutama di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan media komunikasi massa. Selain itu, para cendekiawan barat mengatakan bahwa globalisasi merupakan suatu proses kehidupan yang serba luas, tidak terbatas, dan merangkum segala aspek kehidupan. Globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan yang dampaknya berkelanjutan melampaui batas-batas kebangsaan dan kenegaraan. Pertemuan antarbudaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua arah yang berimbang, tetapi dapat juga sebagai proses dominasi budaya yang satu terhadap lainnya.
B. Globalisasi dan Budaya
Gaung Globalisasi, yang mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu aspek adalah kebudayaan. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, dimana hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita.
Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi boomerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dikuasai oleh Negara-negara maju, bukan Negara berkembang seperti Indonesia. Komunikasi dan transportasi Internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh.
BAB III
PEMBAHASAN
Perubahan budaya Dalam Globalisasi Kesenian Yang Bertahan dan yang Tersisihkan
Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh.
Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna gobalisasi itu sudah demikian terasa. Setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di TV yang bermuara dari Negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, melalui stasiun televise ditanah air. Sementara itu, kesenian-kesenian popular lain yang tersaji melalui kaset, VCD, dan DVD yang berasal dari mancanegara pun makin marak kehadirannya ditengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa Negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di Negara ke tiga. Peristiwa transtruktural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya.
Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Bangsa
Arus globalisai saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan transportasi, telekomunikasi, dan teknologi mengakibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri. Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
1. Pengaruh Globalisasi terhadap Jati diri di Kalangan Generasi Muda
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari anak muda sekarang. Cara berpakaian banyak remaja-remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya barat. Padahal cara berpakaian tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka di cat beraneka warna. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak tau sopan santun dan tidak peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuai hati mereka. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya generasi muda bangsa? Moral generasi muda semakin rusak. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Marilah kita mengembalikan jati diri bangsa, terima globalisasi dengan rasa kritis dan banyak melakukan hal positif.
2. Dampak Positif Globalisasi Terhadap Masyarakat
a. Dari aspek globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara demokratis
b. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional dan meningkatkan devisa suatu Negara
c. Dari aspek globalisasi sosial budaya, kita dapat meniru pola berpikir yang baik dan disiplin, serta kita juga dapat bertukar ilmu pengetahuan tentang budaya suatu bangsa
3. Tindakan yang mendorong timbulnya globalisasi kebudayaan dan cara mengantisipasi adanya globalisasi kebudayaan
Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya yang berjudul Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural. Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional. Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita lihat, misalnya kesenian asli daerah Betawi yaitu, tari cokek, tari lenong, dan sebagainya sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan tujuan kebijakan-kebijakan politik pemerintah.Aparat pemerintah di sini turut mengatur secara normatif, sehingga kesenian Betawi tersebut tidak lagi terlihat keasliannya dan cenderung dapat membosankan.
Globalisasi mempunyai dampak yang besar terhadap budaya. Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda dari yang dimiliki dan dikenal selama ini. Kontak budaya ini memberikan masukan yang penting bagi perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai dan persepsi dikalangan masyarakat yang terlibat dalam proses ini. Kesenian bangsa Indonesia yang memiliki kekuatan etnis dari berbagai macam daerah juga tidak dapat lepas dari pengaruh kontak budaya ini.Sehingga untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan diperlukan pengembangan-pengembangan yang bersifat global namun tetap bercirikan kekuatan lokal atau etnis.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia.Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia.Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah.Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan, atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing. Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya daerah sebagai identitas bangsa.
B. Saran-saran
Dari hasil pembahasan diatas, dapat dilakukan beberapa tindakan untuk mencegah terjadinya pergeseran kebudayaan yaitu :
1. Pemerintah perlu mengkaji ulang perturan-peraturan yang dapat menyebabkan pergeseran budaya bangsa
2. Masyarakat perlu berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah masing-masing khususnya dan budaya bangsa pada umumnya
3. Para pelaku usaha media massa perlu mengadakan seleksi terhadap berbagai berita, hiburan dan informasi yang diberikan agar tidak menimbulkan pergeseran budaya
4. Masyarakat perlu menyeleksi kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk tidak merugikan dan berdampak negative. 5. Masyarakat harus berati-hati dalam meniru atau menerima kebudayaan baru, sehingga pengaruh globalisasi di negara kita tidak terlalu berpengaruh pada kebudayaan yang merupakan jati diri bangsa kita.
C. Daftar Pustaka
Kuntowijoyo, Budaya Elite dan Budaya Massa dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997.
Sapardi Djoko Damono, Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997.
Fuad Hassan. “Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya Nusantara Indonesia”. Dalam http://kongres.budpar.go.id/news/article/Pokok_pokok_bahasan.htm, didownload 23/09/13.
Koenjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Adeney, Bernard T. 1995. Etika Sosial Lintas Budaya. Yogyakarta: Kanisius.
Sabtu, 12 September 2015
RSK SKRIPSI 2
SEKRIPSI 2
Judul Skripsi : Aktivitas Public Relations PT Astra Inernasional Tbk dalam Membina Media Relations (Periode Januari 2004-Maret 2005).
Nama Peneliti : Desti Arya Kuntarti
Tahun Penelitian : 2005
Latar Belakang
Public Relations (PR) adalah salah satu bagian yang berkontribusi penting dalam struktur organisasi perusahaan. Hal ini dikarenakan PR merupakan fungsi strategi dalam manajemen yang melakukan komunikasi untuk menimbulkan pemahaman dan penerimaan dari publik (Rhenald Kasali, 1996: 15). Istilah publik dalam public relation dapat disebut sebagai stakeholder, yakni kumpulan dari orang-orang atau pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Kemudian, khalayak terbagi menjadi dua yang dikenal dengan internal public, yaitu mereka yang bekerja di dalam suatu organisasi atau perusahaan (pemegang saham, manajer, dan top executives, serta karyawan), sementara yang lainnya disebut dengan external public, yaitu orang-orang yang terdapat di dalam mesyarakat (konsumen, bank, pemerintah, pesaing, dan komunitas) (Mahidin Mahmud, 1993, 81).
Media yang digunaka PR berbeda-beda, publik internal melakukan komunikasi dengan tatap muka dan media internal. Sedangkan untuk publik eksternal, menggunakan media massa atau pers sebaga tempa untuk berkomunikasi. Media massa sangat memegang peranan penting sebagai sumber informasi dan pembentuk opini publik. Atas dasar itulah, maka perusahaan menyadari akan kekuatan dan pentingnya peranan media massa, Divisi PR-nya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengelola sebuah kebijakan yang berhubungan dengan media relations.
Dalam buku Koalisi Dominan: Refleksi Kritis Atas Peran dan Fungsi Public Relations dalam Manajemen, Ridwan Nyak Baik (2004: 152) mengemukakan bahwa koalisi strategis antara PR dengan pers dapat dikembangkan atas dasar saling ketergantungan dan saling membutuhkan. Untuk membina hubungan baik dengan media, praktisi public relations dituntut memiliki tiga hal. Pertama adalah pengetahuan. Tanpa mengetahui seluk beluk perusahaan secara rinci, maka mustahil akan bisa menjadi PR yang baik. Kedua adalah skill. Keterampilan untuk membina hubungan da menjelaskan secara runtun terhadap persoalan yang ingin diungkapkan, merupakan suatu keharusan. Cara untuk menyampaikan juga sangat penting bagi keberhasilan penyebarluasan informasi.
Permasalahan Penelitian
Banyak perusahaan tidak jeli dalam memanfaatkan peran dan fungsi media massa. Bahkan, tidak jarang ditemukan kesalahan persepsi antara kedua belah pihak. Pers menilai praktisi PR bekerja hanya sebatas operasional keseharian, tidak mampu mengaktualisasikan dirinya pada fungsi manajemen strategis. Pers selalu menaruh curiga pada PR. Kesalahan persepsi ini tentu sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik. Konflik yang terjadi kadang membuat wartawan atau pers enggan untuk bekerjasama dengan PR. Selain itu, wartawan sering tidak puas dengan release yang dikirim oleh praktisi PR. Dan sebaliknya, kerap sekali praktisi PR mengeluhkan tentang berita yang muncul di media massa,
PT Astra International merupakan satu di antara sedikit perusahaan yang memiliki hubungan baik dengan media massa. Prinsip kesetaraan selalu dipegang teguh oleh keduanya. Hal ini menimbulkan reaksi positif dari berbagai kalangan dengan melihat kerjasama antara PT Astra International dengan media massa. Bagaimana PT Astra International membina media relations sehingga memperoleh citra yang baik di hadapan publiknya adalah komitmen keduanya dalam membangun hubungan.
Tujuan Penelitian
• Memperoleh gambaran mengenai media relations, dalam hal ini adalah hal-hal apa saja yang diimplementasikan oleh praktisi PR PT Astra International Tbk dalam membina media relations.
• Mengetahui tanggapan media terhadap pelaksanaan media relations PT Astra International Tbk.
Kerangka Teori
• Dasar dari adanya kegiatan PR adalah penerangan kepada masyarakat, persuasi untuk mengubah sikap dan tingkah laku masyarakat, usaha untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan dengan sikap dan perbuatan masyarakat dan sebaliknya (Onong, 1998: 17)
• Empat peran yang dapat dimainkan oleh PR dalam membina saling pengertian menurut Philp Lesly.
• Public Relations erat hubungannya terhadap citra. IPR mengemukakan bahwa “Public Relations is about reputation – the result of what you do, what you say and what others say about you” (Harrison, 2000:2)
Metodologi Penelitian
• Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Lexy J. Moleong, 2000: 3).
• Pendekatan diarahkan secara holistik (utuh).
• Penelitian ini berisikan abstraksi, konsep, hipotesis, dan teori dari rincian yang diperoleh.
Hasil Penelitian
Hasil yang telah didapatkan ialah hasil penggalian data mengenai holding company yang bergerak dibidang aneka industri PT Astra Internasional Tbk. Telah dilakukan wawancara dengan beberapa kalangan penting yang terkait yang kemudian mendalami topik yang didiskusikan, yaitu tentang corporate public relations dalam menjalankan media relations.
Kedudukan PR di dalam PT Astra International Tbk menempati posisi yang strategis dan prestisius. Berada di level divisi, di mana divisi ini berada di bawah Corporate Communications yang dipimpin oleh seorang chif berpangkat VP.
Komunikasi yang dilakukan PT Astra International terhadap media massa ialah komunikasi dua arah, sehingga tercapai goodwill, understanding, dan supportive. Hal ini dibuktikan dengan hasil temuan data pada Astra International berupa press release, press statement, dan lain-lain.
Hubungan media yang baik dapat dilihat dengan PT Astra International tidak menutupi saluran informasi, memahami dan melayani media, tidak memaksa pemuatan berita di media massa, tidak membanjiri media, dan membangun hubungan personal yang kokoh.
Kesimpulan
• Kedudukan PR Astra International yang strategis yaitu tepat dibawah CEO atau Presiden Direktur berdampak besar terhadap peran dan fungsi PR Astra International dalam melakukan media relations karena dengan demikian PR Astra international mempunyai akses cepat melakukan komunikasi dengan top management di mana PR harus mampu menerjemahkan keinginan media terhadap perusahaan dan sebaliknya.
• Peran dan fungsi PR Astra International tidak hanya ditunjang oleh nilai dan sistem perusahaan yang baik, namun juga ditunjang dengan orang yang capable dan berkompeten.
• Melakukan penyebaran release, konferensi pers, kunjungan pers, dan juga mengadakan olahraga, mengundang plant tour, melaksanakan workshop, dan lain-lain.
• PT Astra International mengadopsi hubungan media dari Jefkins dan Cutlip Center, melalui mutual understanding, mutual confidence, dan tolerance antar kedua belah pihak.
KOMENTAR :
Mengenai masalah pada skripsi ini tidak perlu dikomentari lagi karena skripsi ini mempunyai nilai bobot yang tinggi dengan banyak manfaatnya untuk menggambarkan dan memberikan motivasi tentang sebuah perusahan yang mempunyai daya saing yang begitu besar dengan meningkatkan mutu dan kualitas bagi anak perusahaan yang bekerja sama dengan PT Astra Internatioanl .
SARAN :
Saran saya mengenai skripsi ini adalah perlunya ditambahi mengenai rencana tujuan dan perubahan – perubahan perkembangan pada PT Astra International dimasa yang akan datang.
Langganan:
Komentar (Atom)
